Minggu, 02 Januari 2011

Harga Emas/Dinar : 2010 Review & 2011 Outlook

2010 baru saja berlalu dan kini kita melangkah ke 2011. Bagi yang mempersepsikan emas atau Dinar sebagai investasi, 2010 adalah tahun yang menggembirakan karena emas atau Dinar mengalami appresiasi nilai sekitar 23 % dalam Rupiah atau sekitar 3.5 kali hasil deposito atau tabungan. Akhir tahun 2009 lalu harga Dinar ditutup di angka Rp 1,444,040  sedangkan akhir tahun 2010 Dinar ditutup pada harga Rp 1,777,760,-. Dalam US$ kenaikan ini lebih menyolok lagi karena harga emas Dunia akhir 2009 adalah US$ 1,087.50 sedangkan akhir 2010 harga emas ini ditutup pada angka US$ 1,421.60 atau mengalami peningkatan sekitar 30%.

Diantara penyebab kenaikan harga emas dunia tersebut yang bersifat sangat fundamental adalah apa yang dilakukan oleh bank central-nya Amerika atau the Fed, dengan perilaku kontroversialnya dalam mencetak uang dari awang-awang atau yang disebut quantitative easing. Kenaikan harga emas 2010 masih terkait langsung dengan dampak quantitative easing 1 yang dilakukan Amerika sejak November 2008. Saat itu mereka mulai ‘mencetak uang’ US$ 600 milyar untuk membeli apa yang disebut Mortgage-Backed Securities (MBS) dan berbagai bentuk surat hutang lainnya, namun karena kompleksitas problem negeri itu angka ini menggelembung sampai US$ 2.1 trilyun pertengahan tahun 2010.

Angka yang US$ 2.1 trilyun tersebut seharusnya menurun bila ekonomi negeri itu berhasil dipulihkan, namun kenyataannya kemudian di bulan November 2010 the Fed-nya negeri itu mengumumkan lagi akan dilakukannya quantitative easing 2  yang akan diimplementasikan hingga pertengahan 2011. Belajar dari quantitative easing 1 yang dampaknya terhadap kenaikan harga emas berlanjut sampai 2 tahun kemudian, maka dampak dari implementasi quantitative easing 2 juga sangat mungkin akan mendongkrak harga emas di tahun 2011 atau bahkan sampai 2012 nanti.

Jadi penyebab utama yang menjadikan harga emas melonjak sampai 30% dalam US$ tahun 2010, juga masih ada disana di tahun 2011. Apakah dampaknya akan sekuat quantitative easing 1 ?, waktu nanti yang akan menjawabnya. Namun ketika quantitative easing 1 diputuskan November 2008, tahun berikutnya (2009) harga emas dalam US$ naik 25%, dan tahun berikutnya lagi (2010) naik hingga 30%. Itulah sebabnya ketika saya membuat Estimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011 dengan menggunakan statitstik 10 tahun dan 40 tahun, saya beri catatan khusus bahwa estimasi tersebut tidak memasukkan dampak dari quantitative easing 2 tersebut diatas.

Jadi kalau di estimasi konservatif harga emas di akhir tahun 2011 ini saya prediksikan di kisaran US$ 1,500/Oz s/d US$ 1,600,-/Oz, maka estimasi optimis-nya bila kita belajar dari dampak quantitative easing 1,  harga emas bisa saja mencapai US$ 1,780/Oz di tahun 2011 dan US$ 2,300/Oz di tahun 2012.

Lantas bagaimana dengan harga emas atau Dinar dalam Rupiah ?. Kenaikan harga emas atau Dinar dalam Rupiah tahun 2010 yang tidak setinggi kenaikanya dalam US$ adalah karena factor penguatan Rupiah terhadap US$.  Bila kurs rata-rata bulanan Desember 2009 adalah Rp 9,454/US$ , Desember 2010 ini rata-ratanya adalah Rp 9,024/US$ atau mengalami penguatan 4.5%.

Penguatan yang sama tidak bisa kita harapkan untuk tahun 2011 ini karena akan menurunkan daya saing ekspor kita, sebaliknya kecenderungan melemah ke kisaran angka tahun sebelumnya (2009) atau di angka Rp 9,400-an lebih memungkinkan bila negeri ini ingin terus menjaga surplus di neraca perdagangannya.

Maka bila faktor quantitative easing 2 dan sedikit pelemahan Rupiah ini yang kita gabungkan untuk membuat estimasi optimis harga emas atau Dinar dalam Rupiah,  harga emas dalam Rupiah akan mencapai kisaran Rp 540,000/gram di tahun 2011 dan Rp 700,000/gram di tahun 2012. Dengan asumsi yang sama maka Dinar akan berada di kisaran Rp 2,300,000,- tahun 2011 dan Rp 3,000,000 tahun 2012.

Sebagaimana yang sering saya ungkapkan di situs ini, tidak ada seorang-pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi. Jadi estimasi saya baik yang konservatif maupun yang optimistis bisa saja keduanya salah. Wa Allahu A’lam.
(Muhaimin Iqbal, owner geraidinar.com, 1 Januari 2011)

Entrepreneurship : Inginkah Anda Masuk Ke Sekolah Business Terbaik…?.

Tergelitik dengan sebuah artikel di harian Kompas kemarin (30/12/2010) yang menyatakan bahwa di Indonesia kini hanya ada sekitar 0.18%  (+/- 426,600)dari jumlah penduduk Indonesia (237 juta) yang jadi wirausaha, saya jadi terdorong untuk ikut bisa berkontribusi dalam melahirkan atau setidaknya ikut serius memikirkan bagaimana kita  bisa melahirkan hampir 2 juta lagi wirausaha yang dibutuhkan negeri ini – sekedar untuk melewati angka 1 % dari jumlah penduduk, agar kita bisa memenuhi KPI kita-kita dalam melaksanakan perintah untuk memberi makan.

Saya tahu pastinya instansi-instansi yang terkait dari pusat maupun di daerah juga telah memikirkan dan berbuat tentang hal ini, namun kontribusi orang swasta seperti kita-kita juga amat sangat dibutuhkan – lagi pula masing-masing kita juga memiliki tugas untuk menciptakan pekerjaan ini seperti yang sudah pernah saya tulis dalam link tersebut diatas.

Lantas dari mana memulainya ?, kalau melihat rendahnya jumlah wirausaha negeri ini seperti data yang terungkap di atas – pasti ada sesuatu yang seriously wrong di negeri ini yang menghambat tumbuhnya para wirausaha.  Salah satu yang seriously wrong ini pernah saya tulis hampir setahun lalu dengan judul “Tantangan Untuk Negeri Di Ranking 122…”.

Yang kedua adalah masalah pendidikan, meskipun beberapa sekolah business telah lahir di negeri ini – jumlahnya masih amat sangat sedikit ketimbang sekolah-sekolah lain yang pada umumnya tidak mempersiapkan lulusannya untuk siap terjun menjadi wirausaha.  Namun kalau toh Anda belum sempat mengecap sekolah business yang baik ini, Anda tidak perlu kawatir – karena ada sekolah business yang terbaik yang siap menanti Anda memasukinya kapan saja Anda mau.

Keberadaan sekolah business terbaik ini saya pelajari dari salah satu entrepreneur dan penulis terpopuler dunia yaitu Robert T. Kiyosaki. Robert ini pernah menjadi pilot angkatan laut Amerika ketika negeri itu terlibat dalam perang yang tidak bisa dimenangkannya yaitu perang Vietnam. Saat itu korban dari Amerika begitu banyaknya sehingga setiap missi yang dilakukan, ancaman kematian begitu nyata di depan mata.

Lantas bagaimana Robert menghadapi ‘misi bunuh diri’ ini ?, Entah dia berdo’a ke siapa – tetapi dia berdo’a bukan untuk tetap hidup – tetapi berdo’a untuk mati tidak sebagai pengecut, dia ingin mati terhormat – dan tidak ingin ketakutan akan kematian menghalangi dia untuk berbuat sesuatu terhadap negerinya – meskipun saat itu dia sendiri ragu apakah yang dilakukan negerinya tersebut benar atau salah.

Sikap ini rupanya yang mempengaruhi apa yang dilakukannya kemudian ketika selamat kembali ke negaranya, apa yang dilakukannya berbeda dengan veteran perang pada umumnya. Dia tidak mencari pekerjaan yang memberinya job security, apalagi minta santunan pemerintahnya. Dia siap menghadapi lembah kematian –death valley- berikutnya , yaitu death valley-nya para pengusaha.

Dengan berani menghadapi ‘kematian’ ini, dia mencoba satu demi satu usaha – tentu banyak yang gagal – tetapi sejarah hidupnya kemudian mencatat juga begitu banyak yang berhasil. Bahkan pengalaman keberhasilannya dalam usaha dan investasi menjadi inspirasi bagi jutaan orang lain di dunia.

Lantas dimana sekolah business terbaik yang Robert Kiyosaki pernah masuki untuk mencapai keberhasilannya tersebut ?.  Berdasarkan pengakuan dia sendiri, sekolah terbaiknya adalah pengalaman hidupnya. Belajar dari kegagalan dan kesalahan, belajar menghadapi rasa takut (istilah saya ayub-ayuben) dalam hidupnya – itulah sekolah business terbaik yang dia miliki.

Pengalaman Robert membangun usaha dan portofolio investasi ini juga sejalan dengan rumusan pakar pendidikan Edgar Dale yang menghasilkan apa yang disebutnya cone of experience atau kerucut pengalaman. Berdasarkan rumusan cone of experience seperti dalam grafik dibawah, pelajaran terbaik adalah memang dari ‘do the real thing’.

Cone of ExperienceCone of Experience
 
Sedangkan membaca dan mendengar adalah merupakan sarana belajar yang paling buruk. Jadi disinilah rupanya masalahnya mengapa wirausaha di negeri ini jumlahnya masih begitu kecil. Ketika kita sekolah, kita menuntut ilmu mayoritasnya hanya melalui cara membaca dan mendengar. Ketika kita sudah mapan bekerja di institusi kenamaan, kita bercita-cita ingin menjadi pengusaha – tetapi yang kita lakukan juga lebih banyak sebatas membaca buku dan mendengar cerita sukses orang lain.

Nah kinilah saatnya kita ‘do the real thing’ tersebut dan siap menghadap death valley dengan tegar. Lebih dari 1400 tahun sebelum Edgar Dale menemukan Cone of Experience-nya; Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW sudah mengajarkan ke kita tentang hal yang amat sangat penting yang perlu kita lakukan dalam hidup kita yaitu amal shaleh. Ilmu saja tidak cukup bila tidak di amalkan. Para pejuang-pejuang Islam yang mengikuti beliau – kemudian juga memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan seni menghadapi ‘kematian’ ini yaitu dengan tekad untuk Isy Kariman Au Mut Syahidan – Hidup Mulya Atau Mati Syahid.


Kalau Robert Kiyosaki saja bisa begitu sukses karena dia tidak takut menghadapi death valley dalam hidupnya, kita yang memiliki iman dan tujuan hidup yang lebih mulya – insyaAllah juga memiliki kesempatan sukses yang sama, bila kita juga melakukan hal yang sama – belajar dari sekolah bisnis terbaik yang sama pula – yaitu sekolah business yang disebut ‘do the real thing !’. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 31 Desember 2010)

Rabu, 29 Desember 2010

Menambal Ember Bocor : Cara Mengalahkan Inflasi...

Dalam tulisan saya tanggal 16 Desember 2010 lalu saya menjelaskan bahwa inflasi itu seperti ember bocor untuk mengangkut air,  seberapa keras-pun kita bekerja – hasilnya tidak akan optimal karena tabungan  kita terus tergerus oleh inflasi. Bila Anda punya uang banyak dan ditaruh di Deposito, hasil bersihnya setelah pajak hari-hari ini akan berada di kisaran 5 % per tahun. Bila di tabungan biasa, hasil bersihnya akan lebih rendah lagi yaitu di kisaran 3 % per tahun. Apalah artinya hasil yang 5% atau bahkan 3 % ini bila dibandingkan dengan inflasi rata-rata year on year (yoy) delapan tahun terakhir sejak Januari 2003 berada di kisaran 8% per tahun?.

Mau ditaruh di deposito dalam mata uang asing seperti US$ ?, lebih buruk lagi hasilnya. Hari-hari ini deposito US$ hanya akan memberikan hasil di kisaran 0.30% per tahun sementara tingkat inflasi rata-rata US$ adalah di kisaran 4% per tahun. Walhasil dimanapun uang Anda ditaruh, asal masih berupa uang kertas – akan tetap tergerus oleh inflasi – Anda tetap membawa air dalam ember yang bocor !.

Lantas apa yang Anda bisa lakukan, agar jerih payah Anda tetap bernilai ketika kelak dibutuhkan untuk biaya sekolah anak-anak, membayar biaya kesehatan di hari tua, agar di usia pensiun Anda tetap perkasa dari sisi financial ?.

Pertama ember yang bocor tersebut harus ditambal dahulu !, dengan apa ?, yang jelas sudah terbukti mudah dikelola dan available adalah mengamankan hasil jerih payah Anda secukupnya (agar tidak menimbun) dalam bentuk emas atau Dinar. Perhatikan grafik dibawah yang menggambarkan perbandingan appresiasi harga emas (yoy) dengan inflasi (yoy) selama 8 tahun terakhir sejak Januari 2003. Data Inflasi saya ambilkan dari datanya Bank Indonesia, harga emas saya ambilkan dari datanya Kitco, sedangkan konversinya ke Rupiah saya gunakan data dari Pacific Exchange Rate Services.

Emas vs InflasiSource : BI, Kitco, Pacific Exchange Services
 
Dari grafik diatas Anda bisa lihat, appresiasi harga emas hampir selalu bisa melampaui inflasi dengan tingkat perbedaan yang cukup tinggi. Bila ditarik angka rata-ratanya selama 8 tahun terakhir, rata-rata appresiasi harga emas dalam Rupiah berada di kisaran 19 % per tahun , sedangkan rata-rata inflasi berada di kisaran 8 % per tahun. Jadi grafik tersebut diatas menunjukkan bahwa emas atau Dinar dengan mudah dapat Anda gunakan untuk menambal ember bocor yang namanya inflasi.

Kedua setelah ember Anda tidak lagi bocor, kini saatnya Anda dapat bekerja keras tanpa perlu kawatir hasilnya akan tergerus oleh inflasi. Bila diamnya emas atau Dinar saja dengan mudah akan mampu mengalahkan inflasi, tentu hasilnya akan lebih baik lagi dan lebih bermanfaat untuk umat yang luas bila emas atau Dinar tersebut digunakan untuk memutar sektor riil atau untuk berusaha.

Itulah sebabnya, kampanye penggunaan Dinar di situs ini tidak hanya berhenti pada sekedar  menggunakan Dinar untuk proteksi nilai, tetapi lebih dari itu kita juga mendorong untuk lahirnya usaha-usaha sektor riil yang insyaAllah akan memberi manfaat yang lebih luas. Bahkan insyaallah kedepannya, bersamaan dengan sudah memasyarakatnya Dinar – kampanye untuk mendorong lahirnya berbagai usaha sektor riil ini akan lebih banyak kami tekankan. InsyaAllah.
(Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 28 Desember 2010)

Minggu, 26 Desember 2010

Enstimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011…

Menjelang akhir tahun seperti ini pertanyaan yang paling banyak sampai ke saya adalah bagaimana perkiraan harga emas  atau Dinar tahun depan. Jawaban saya tetap sama, tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Hanya untuk menjawab rasa penasaran para penanya, melalui tulisan ini saya buat prediksi sederhana yang sifatnya sangat konservatif.

Saya menggunakan data harga emas yang dibeli dengan US$ sejak dilepaskannya kaitan US$ terhadap emas yang ditandai oleh kejadian yang disebut Nixon Shock 15 Agustus 1971. Sejak kejadian 40 tahun lalu tersebut, harga emas dalam US$ mengalami kenaikan rata-rata sekitar 8.88% per tahun hingga kini. Maka bila kita gunakan angka rata-rata kenaikan 40 tahun ini, harga emas akhir tahun depan insyaAllah akan berada di kisaran US$ 1,500/Oz. Lihat ujung garis merah pada grafik di bawah.

Emas 2011 
Namun karena ada kecenderungan percepatan penurunan daya beli US$ selama sepuluh tahun terakhir, khususnya lagi sejak krisis akhir 2008 – maka apabila diambil angka rata-rata 10 tahun terakhir saja – kenaikan harga emas dunia dalam US$ adalah 16.3% per tahun. Berdasarkan kenaikan rata-rata pertahun selama 10 tahunan tersebut, maka harga emas setahun kedepan dapat diprediksi akan berada di kisaran US$ 1,600/Oz. Lihat ujung garis hijau pada grafik di atas.

Jadi prediksi konservatif harga emas dunia tahun depan akan berada di range US$ 1,500/Oz s/d US$ 1,600/Oz. Saya katakan ini prediksi konsevatif karena murni mengandalkan statistik 10 tahun atau bahkan 40 tahun ke belakang – tanpa memperhatikan perubahan lingkungan ekonomi di tahun-tahun terakhir ini. Realitanya nanti bisa saja yang terjadi jauh lebih tinggi dari prediksi konservatif tersebut karena ada factor kejadian luar biasa di ekonomi AS pada tahun 2011 – yaitu realisasi ‘pencetakan  uang dari awang-awang’ atau yang disebut Quantitative Easing 2 – yang sudah diketok palunya awal bulan November lalu.

Dengan asumsi Rupiah juga akan sedikit melemah ke kisaran Rp 9,400/US$ tahun 2011 – karena bila terus perkasa ekspor kita yang akan terganggu – maka harga emas dalam Rupiah estimasi konservatif-nya setahun mendatang akan berada di kisaran Rp 460,000/gram s/d Rp 490,000/gram, atau mengalami kenaikan sekitar 11%-19%  dari harga emas sekarang yang berada di kisaran Rp 410,000/gram. Dengan dasar perhitungan yang sama, maka Dinar setahun kedepan insyaallah akan berada di kisaran harga Rp 1,940,000/Dinar s/d Rp 2,070,000/Dinar.

Dengan dasar perhitungan yang konservatif inipun apresiasi harga emas atau Dinar setahun kedepan masih akan memberikan hasil lebih dari dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingkat bagi hasil deposito atau tabungan yang diberikan oleh dunia perbankan.

Namanya juga estimasi, maka saya bisa saja keliru….tetapi setidaknya inilah angka yang bisa saya berikan bagi para penanya agar tidak penasaran. Wa Allahu A’lam. (Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 24 Desember 2010)

Kamis, 16 Desember 2010

Inflasi Itu Seperti Ember Bocor...

Semasa kecil di kampung, saya biasa mengisi kulah (bak tempat penampungan air) dengan cara menimba air dari sumur. Alat timba di jaman itu berupa bambu panjang yang diujungnya diikatkan ember dari seng.  Karena usia ember seng yang tua dimakan karat – maka emberpun tidak lagi utuh – jadi ada kebocoran disana-sini.  Setiap kali ember saya masukkan ke-kedalaman sumur dan terisi air penuh, segera saya tarik keatas ember tersebut – dan menuangkan airnya secepat mungkin ke kulah. Bila mengangkat embernya kurang cepat, maka air akan habis di perjalanan dari dasar sumur ke permukaan kulah karena kebocoran tersebut. Tentu bekerja semacam ini sangat melelahkan dan tidak efisien karena begitu banyak air yang tidak sampai ke kulah.

Tanpa kita sadari, sesungguhnya rata-rata kita juga bekerja seperti menimba air dengan ember bocor tersebut. Begitu keras kita bekerja, sebagian hasilnya kita tabung untuk hari tua, untuk membayar dana pensiun, membayar asuransi pendidikan, kesehatan dlsb. tetapi ternyata begitu banyak pula yang ‘terbuang’ dalam perjalanannya karena faktor inflasi.

Ironinya yang menguras ‘kulah’ tabungan hari tua kita ini bukan hanya inflasi yang terjadi terhadap Rupiah, tetapi juga inflasi mata uang negara lain yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan kerja keras kita – yaitu US$. Karena pengalaman buruk dengan Rupiah tahun 1997/1998, sebagian orang yang punya uang mengalihkan simpanannya dalam US$ - bentuknya bisa berupa tabungan, deposito, asuransi dlsb.

Tanpa disadari ternyata yang lari ke US$ tersebut seperti terhindar dari mulut harimau masuk mulut buaya – karena pada tahun-tahun belakangan inflasi US$ ternyata lebih buruk dibandingkan dengan inflasi Rupiah. Lebih buruknya inflasi US$ dibandingkan Rupiah ini hanya akan disadari mana kala keduanya di ‘timbang’ dengan timbangan yang baku yaitu emas atau Dinar. Bila Anda sempat mengunjungi situs kami yang lain www.emas24.com misalnya, per hari ini harga emas dalam Rupiah selama setahun terakhir hanya mengalami kenaikan sekitar 20% ; namun kalau Anda lihat situsnya www.kitco.com Anda akan melihat kenaikan harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir telah mendekati 23 %.

Bagi Anda yang sama sekali tidak menggunakan US$ - mungkin Anda berpikir bahwa Anda terbebas dari inflasi US$ ini ?. Ternyata tidak juga, karena sebagai bangsa – salah satu kekuatan ekonomi negeri ini terletak pada cadangan devisa-nya.  Masalahnya adalah ‘kulah’ yang  berupa cadangan devisa negeri ini  dicatatnya juga dalam bentuk US$.

Maka mari kita lihat apa yang terjadi dengan ‘kulah’ cadangan devisa kita ini selama dua tahun terakhir. Negeri ini telah bekerja keras memproduksi barang dan jasa yang sebagiannya untuk ekspor, hasilnya ditampung dalam suatu tempat dan dihitung dengan US$. Di atas kertas isi ‘kulah’ kita ini memang terus bertambah, bila dua tahun lalu isinya dikisaran US$ 51 Milyar – kini isinya mendekati US$ 93 milyar. Kita bangga karena berhasil meningkatkan cadangan devisa sekitar 62 % selama dua tahun terakhir - lihat garis hijau pada grafik dibawah.

DevisaCadangan Devisa RI 2008-2010
 
Tetapi sayangnya, entah kita sadari atau tidak, bila timbangan yang kita gunakan bukan US$ yang nilainya terus menyusut karena berbagai ulah penguasa moneter negeri itu, tetapi kita gunakan timbangan yang baku sepajang zaman – yaitu emas , maka ternyata isi ‘kulah’ kita tersebut tidak bertambah sejak dua tahun lalu – bahkan turun 2 % selama dua tahun – lihat garis kuning pada grafik diatas.

Apa maknanya ini ?, ternyata bukan hanya kita pribadi yang bekerja dengan ember bocor, tetapi bangsa ini juga demikian. Kita mengira bertambah kaya dengan cadangan devisa, tetapi bila cadangan devisa tersebut kita nilai dengan benda riil baik itu berupa emas, minyak, bahan pangan atau benda riil lainnya – ternyata kekayaan kita tidak bertambah. Inflasi US$ telah membawa kita terbuai dalam ilusi – seolah kita tambah kaya – padahal kenyataannya cenderung sebaliknya.

Lantas maukah kita tetap terus mengisi kulah dengan ember bocor tersebut ?, ya setelah sadar mestinya tidak lagi. Kita ganti ember tersebut dengan ember yang baru, tidak lagi bocor sehingga berapa-pun air yang terbawa di dalamnya akan terbawa penuh sampai ke kulah. Ember baru ini tidak harus emas atau Dinar, bisa saja berupa minyak, gas, jagung, beras ataupun berbagai benda riil lainnya. Agar pekerjaan kita tidak sia-sia – maka  kita perlu segera mengganti ember ini dengan yang baru, mengapa ?.

Seperti juga ember dari seng tua yang mulai lapuk oleh karat, ‘kebocoran’ berupa inflasi US$ ini kedepannya nampaknya tidak akan sembuh sendiri – bahkan nampaknya akan semakin membesar. Perhatikan grafik dibawah yang saya peroleh dari Free Gold Money Report.

US$ DebtUS Debt Increase
 
Sejak krisi financial dua tahun lalu, pendapatan Amerika dari pajak dan lain sebagainya (garis biru) semakin turun sementara pengeluarannya semakin jauh melebihi pendapatan ( garis merah). Lantas dari mana mereka nomboki pengeluaran yang tidak bisa dicukupi oleh pemasukan ini ?, ya dari hutang  lah – maka dapat dilihat hutang mereka (jari-jari hijau) yang semakin lama semakin membubung tinggi – saat ini angkanya sudah mendekati US$ 14 trilyun.

Terus dari mana mereka akan membayar hutang yang semakin membengkak tersebut nantinya – sementara saving masyarakatnya terbukti selama bertahun-tahun tidak cukup untuk menutupnya ? ya apa lagi kalau bukan mencetak uang dari awang-awang. Itulah sebabnya mereka terus mengusung program Quantitative Easing 1, 2 dan entah sampai berapa nanti sampai suatu saat dunia tidak lagi mempercayai hutang-hutangnya.

Jadi bocornya ember karatan US Dollar sejauh yang bisa dilihat dari data yang ada nampaknya akan terus membesar, maka alangkah sia-sia-nya kalau kita masih terus mau mengisi ‘kulah’ kita dengan ember tua karatan lagi bocor tersebut. Wa Allahu A’lam... (M Iqbal, owner Gerai Dinar, 16 Desember 2010)

Rabu, 15 Desember 2010

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Pertanyaan ini sering sekali sampai ke saya dalam berbagai keempatan, Baik lewat email, kesempatan tanya jawab dalam ceramah atau bahkan banyak sekali pembeli Dinar sebelum mereka mulai membeli – mereka menanyakan dahulu masalah ini.


Ketiga-tiganya tentu memiliki kesamaan karena bahannya memang sama. Kesamaan tersebut terletak pada keunggulan investasi tiga bentuk emas ini yaitu semuanya memiliki nilai nyata (tangible), senilai benda fisiknya (intrinsic) dan dan nilai yang melekat/bawaan pada benda itu (innate). Ketiga keunggulan nilai ini tdak dimiliki oleh investasi bentuk lain seperti saham, surat berharga dan uang kertas.

Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi – kalau tidak ada campur tanganberbagai pihak dengan kepentingannya sendiri-sendiri otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.

Sebaliknya default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.

Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ? Disini saya berikan perbandingannya saja yang semoga objektif sehingga pembaca bisa memilih sendiri - Agar keputusan Anda tidak terpengaruh oleh pendapat saya – karena kalau pendapat saya tentu ke Dinar karena inilah yang saya masyarakatkan.
Kelebihan Dinar :
1. Memiliki sifat unit account ; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar – hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan di simpan yang 95 Dinar.
2. Sangat liquid untuk diperjual belikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab Zakat misalnya ditentukan dengan Dinar atau Dirham - umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai Jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31 %, maka setelah dipotong biaya 4 % tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjual belikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar :
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3% - 5 % dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

Kelebihan Emas Lantakan :
1. Tidak terkena PPN
2. Apabila yang kita beli dalam unit 1 kiloan – tidak terkena biaya cetak.
3. Nilai jual kembali tinggi.

Kelemahan Emas Lantakan :
1. Tidak fleksibel; kalau kita simpan emas 1 kg, kemudian kita butuhkan 10 gram untuk keperluan tunai – tidak mudah untuk dipotong. Artinya harus dijual dahulu yang 1 kg, digunakan sebagian tunai – sebagian dibelikan lagi dalam unit yang lebih kecil – maka akan ada kehilangan biaya penjualan/adiminstrasi yang beberapa kali.
2. Kalau yang kita simpan unit kecil seperti unit 1 gram, 5 gram, 10 gram – maka biaya cetaknya akan cukup tinggi.
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena adanya kendala ukuran. Pengguna yang butuh 100 gram, dia tidak akan tertarik membeli dari pengguna lain yang mempunyai kumpulan 10 gram-an. Pengguna yang akan menjual 100 gram tidak bisa menjual ke dua orang yang masing-masing butuh 50 gram dst.

Kelebihan Emas Perhiasan :
1. Selain untuk investasi, dapat digunakan untuk keperluan lain – dipakai sebagai perhiasan.

Kelemahan Perhaiasn :
1. Biaya produksi tinggi
2. Terkena PPN
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena kendala model dan ukuran.

Dari perbandingan-perbandingan tersebut, kita bisa memilih sendiri bentuk investasi emas yang mana yang paling tepat untuk kita. Wallahu A'lam.
(M Iqbal, owner Gerai Dinar, 22 November 2008)

Sabtu, 04 Desember 2010

Berpacu Dengan Inflasi…

Pada tanggal 13 Januari 2008 lalu saya menulis tentang inflasi yang menghanguskan jerih payah kita bertahun-tahun; kali ini saya ingin mengupdate tulisan mengenai inflasi ini sesuai data terakhir.

Akhir pekan lalu Biro Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan laporan bulanannya yang lumayan lengkap dan dapat dilihat di situs mereka . Yang menarik perhatian saya adalah angka inflasi year on year yang mencapai angka 8.96% .

Apa ini artinya bagi kita ?, kalau tabungan kita atau bentuk investasi apapun yang kita lakukan tidak bisa mencapai angka 8.96% tersebut, berarti secara riil investasi kita telah menyusut nilainya.

Demikian pula bagi kita kaum pekerja, kalau penghasilan kita tidak mampu tumbuh diatas angka 8.96% tersebut maka kesejahteraan kita yang menurun karena barang dan jasa yang mampu kita beli dengan uang kita menjadi berkurang.

Bagaimana kalau situasi ini berlangsung tidak hanya tahun ini tetapi terus menerus ? inilah proses spiral pemiskinan yang karena terjadi secara bertahap – kita tidak ujug-ujug miskin – yang kita rasa hanya beban hidup yang semakin hari semakin berat.

Betapa tidak semakin berat - periode yang sama pada tahun lalu - kita ‘hanya’ mengalami angka inflasi year on year 6.29% , dengan angka inflasi tahun ini yang 8.96% maka dalam dua tahun terakhir saja barang-barang dan jasa yang kita butuhkan akan mengalami kenaikan harga rata-rata diatas 15 %.

Apakah kita yakin, bulan-bulan mendatang, tahun- tahun mendatang situasi ini akan berubah ? dari pada berspekulasi dengan waktu, akan lebih baik apabila kita bisa/mau berbuat sedini mungkin untuk mengalahkan inflasi ini – yang berarti juga mengalahkan proses pemiskinan bertahap.

Lantas apa yang dapat kita lakukan ? berikut adalah beberapa diantaranya:

1) Kalau asset Anda mayoritas berupa uang kertas di tabungan/deposito; periksa apakah selama beberapa tahun terakhir hasilnya pernah mengalahkan inflasi ? Kalau tidak berarti waktunya Anda pikirkan alternatif investasi yang lain.
2) Kalau Anda bisa berdagang atau berusaha di sector riil – ini yang ideal karena insyaallah anda akan relatif mudah mengalahkan invesatsi. Lihat tulisan saya tanggal 25 desember 2007 .
3) Kalau Anda belum terbiasa berdagang atau berusaha di sector riil, investasi di Dinar merupakan salah satu option terbaik. Pada tingkat harga yang relatif rendah sekarang saja – harga emas dunia dalam US Dollar pada saat artikel ini saya tulis masih berada 25.67% lebih tinggi dibandingkan harga emas setahun yang lalu. Harga dinar mengikuti harga emas – artinya mengalami kenaikan yang sama dengan kenaikan emas ini. Jadi diamnya Dinar Anda saja bisa mengalahkan inflasi – apalagi kalau Dinar ini juga diinvestasikan/diputar – maka hasilnya akan lebih baik lagi.
4) Butir 1, 2 dan 3 menyangkut investasi dari harta yang sudah Anda miliki, bagaimana dengan penghasilan rutin yang sekarang sedang Anda cari ?. Sekali lagi tes-nya relatif mudah – paling tidak dari sisi materi. Kalau rata-rata kenaikan penghasilan Anda dapat mengalahkan inflasi, maka insyaallah kesejahteraan Anda meningkat dari waktu ke waktu. Kalau tidak ?, Anda dapat mulai untuk merintis usaha Anda di sector riil atau perdagangan – insyaallah kesejahteraan Anda lebih terjamin disini sebagaimana hadits Ibnu Majjah " sembilan dari sepuluh pintu rizky adanya di perniagaan ."

Bumi Allah luas, rizky dariNya cukup untuk setiap makhluk sampai akhir hayatnya. Jadi inflasi-pun tidak akan mampu menyempitkan rizky kita. Wallahu A’lam. (M Iqbal, owner Gerai Dinar, 5 Mei 2008)