Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Makro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Makro. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

Kecerdasan Financial Islami : Bukan Pindah Kwadran Tetapi Merubuhkan Tembok Kwadran...

Pekan lalu ketika saya menulis tentang Food For All saya menyajikan data inflasi di negeri ini selama lima tahun terakhir dari BPS. Di situ antara lain saya ungkapkan bahwa rata-rata inflasi umum di Indonesia lima tahun terakhir adalah 6.8% per tahun, sedangkan inflasi bahan pangan rata-ratanya adalah 12 %/tahun pada periode yang sama. Sekarang bagi Anda yang masih ‘beruntung’ memiliki tabungan atau deposito selama lima tahun terakhir, tengoklah dan perhatikan baik baik – apakah hasil bersih di tabungan Anda bisa mengalahkan angka-angka inflasi tersebut diatas ?.

Kecil kemungkinannya hasil bersih tabungan atau deposito Anda bisa mengalahkan inflasi umum, dan menjadi lebih tidak mungkin lagi bisa mengalahkan inflasi bahan pangan yang hampir dua kalinya inflasi umum !. Inilah sebabnya mengapa hanya dengan menabung orang tidak akan menjadi tambah makmur, karena angka uang mereka bertambah tetapi daya belinya terus menurun.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, para penabung di Amerika yang gurunya kapitalisme dunia – juga mengalami penderitaan yang sama. Bila menggunakan data resmi inflasi menurut pemerintah mereka, rata-rata inflasi negeri itu selama 40 tahun terakhir adalah sekitar 4%.  Rata-rata deposit berdasarkan data dari Federal Reserve-nya adalah 6% - maka rata-rata penabung untung 2 % ?. Ternyata tidak, karena data inflasi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah mereka – diragukan oleh warganya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic yang mengungkapkan inflasi yang jauh lebih tinggi dari data resmi.

Kalau keakuratan data Shadow Government Statistic  juga diragukan, maka saya gunakan data yang lebih sahih yaitu harga emas dalam mata uang negeri itu selama periode yang sama seperti pada grafik dibawah. Hasilnya ternyata rata-rata appresiasi harga emas dalam US$ selama 40 tahun terakhir adalah sekitar 12% !.  Mengapa appresiasi harga emas dalam jangka panjang ini jauh lebih akurat untuk mencerminkan infasi yang sesungguhnya ? karena ada bukti sahih yang yakini kebenarannya yaitu satu Dinar emas (4.25 gram) terbukti daya beli-nya stabil setara dengan seekor kambing kwalitas baik sepanjang zaman !.
 
US Ratesource : Kitco, The Fed
Artinya adalah rata-rata penabung di Amerika selama 40 tahun terakhir hanya mendapatkan separuh dari inflasi yang sesungguhnya – atau rata-rata penduduk negeri itu menjadi bertambah miskin dari waktu ke waktu. Lebih sadis lagi adalah statistik 10 tahun terakhir yang menunjukkan rata-rata penabung negeri itu mendapatkan hasil 3 % sedangkan rata-rata inflasi yang sesungguhnya berdasarkan harga emas adalah 16 % untuk periode yang sama – itulah mengapa warga negeri itu kini menjerit dengan proses pemiskinan yang luar biasa cepatnya !.

Lho tetapi kan ada Bill Gates, Warren Buffet, Michael Dell, Donald Trump dlsb yaitu deretan orang-orang terkaya dunia yang notabene adalah warga negara Amerika Serikat ?.  Betul sekali !.  System keuangan kapitalis ribawi ini membuat segelintir orang menjadi sangat kaya dan mayoritas orang menjadi miskin. Itulah sebabnya ada survey ‘tidak resmi’ PBB yang mengungkapkan bahwa 2% penduduk dunia menguasai 50% kekayaan Dunia, sedangkan 50% warga dunia berebut 1 % kekayaan dunia.

Sistem financial ribawi seperti telah membuat tembok besar, di satu sisi adalah 98% penduduk dunia yang dari waktu ke waktu bertambah miskin. Mereka bekerja dengan keras tetapi hasil kerjanya seperti mereka bawa dengan ember bocor – yang tidak pernah sampai tujuan – ketika diperlukan. Di sisi tembok yang lain ada segelintir orang yang pandai menggunakan  uang yang dikumpulkan oleh 98% penduduk tersebut – yaitu uang bank – untuk memutar usahanya sehingga mereka terus bertambah kaya.

Tembok-tembok tersebut oleh Robert Kiyosaki digambarkannya sebagai kwadran, Anda harus bisa pindah kwadran menjadi entrepreneur atau bahkan investor – agar Anda tidak termiskinkan oleh system kapitalisme global. Pemikiran Robert Kiyosaki dalam berbagai bukunya yang selalu best seller ini memukau jutaan orang di dunia yag mendadak rame-rame pingin pindah kwadran.

Dahulu pemikiran ini juga memukau saya sehingga saya juga berusaha sekuat tenaga untuk pindah kwadran.  Sekarang-pun saya tetap membaca buku-bukunya untuk menyelami pemikiran para kapitalis ini, namun segera saya menyadari adanya ketidak sesuaian dengan syariat di agama ini.

Selain investasi-investasi yang dimaksud oleh Robert Kiyosaki penuh dengan unsur ribanya, ada yang lebih mendasar dari itu. Robert Kiyosaki mengajari kita untuk bisa kaya sendirian tetapi tidak pernah mengajak kita untuk memakmurkan sesama. Islam mengajarkan kita untuk makmur bersama-sama, bahkan tidak dikatakan beriman bila kita kenyang sendirian  sedangkan tetangga kita pada  kelaparan.

Tugas kita bukan untuk pindah kwadran menembus tembok yang satu pindah ke sisi tembok yang lain; tetapi tugas kita adalah merubuhkan tembok-tembok penyekat kwadran-kwadran tersebut. Dengan apa tembok penyekat ini akan runtuh ?. Dengan membuka akses terhadap kapital bagi siapa saja, akses pengetahuan dan yang sangat urgent di negeri ini adalah akses pasar.

Bayangkan bila di sekitar kita ada suatu pasar, dimana kita dan istri-istri kita bisa leluasa berjualan karya kita semua – dan semua orang bisa melakukan hal yang sama; maka tidak ada lagi mayoritas kelas pekerja – kelas 98% penduduk – karena kita semua mempunyai peluang yang sama untuk menjadi pengusaha.

Jadi kini kita memiliki misi yang lebih mulia dari sekedar pindah kwadran untuk diri kita, tetapi kita ingin menghilangkan tembok-tembok pembatas kwadran tersebut agar kemakmuran bisa lebih merata. Bila ini bisa kita lakukan – maka inilah kecerdasan yang sesungguhnya – kecerdasan yang memakmurkan umat bukan hanya diri sendiri. InsyaAllah.
(Muhaimin Iqbal, owner Gerai Dinar, 13 Januari 2011)

Kamis, 06 Januari 2011

Mencegah Kelaparan, Mengatasi Kemiskinan dan Membangun Kemakmuran : Kita Kudu Bisa ...!

Saya mungkin termasuk sedikit warga Depok yang beruntung, dalam arti bisa berkomunikasi dan mencurahkan uneg-uneg saya ke pemimpin saya di Depok – yaitu walikota Depok Bpk Dr. Ir. Nurmahmudi Ismail Msc – hampir setiap kali saya membutuhkannya. Pagi ini habis sholat subuh di Masjid kompleks kami, sekali lagi saya berkesempatan menyampaikan segala uneg-uneg saya terkait kelaparan yang saya tulis di situs ini dua hari terakhir. Hasil diskusi ini saya share kepada pembaca sekalian, agar menjadi renungan dan dorongan untuk bisa meningkatkan amal shaleh kita bersama.

Oleh-oleh yang sangat berarti bagi pemahaman saya tentang kemiskinan  di daerah saya adalah informasi dari beliau bahwa PDB Depok tahun lalu berada di kisaran Rp 14 trilyun, dan jumlah penduduk Depok ada di kisaran 1.7 juta jiwa. Ini sangat mengejutkan saya terus terang karena berarti pendapatan per kapita Depok hanya berada di kisaran angka Rp 8.2 juta per kapita per tahun – atau hanya seperempat dari  pendapatan per kapita rata-rata di Indonesia tahun 2009 yang saya sajikan melalui tulisan tanggal 22 Juli 2010 dengan judul Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar !.

Angka tersebut nampaknya juga sangat mengejutkan beliau sendiri manakala angka ini saya konversikan ke nisab zakat yang 20 Dinar atau sekitar Rp 34 juta. Rata-rata penduduk Depok ternyata hanya berpendapatan per kapita di kisaran 24% nisab zakat !.

Apakah ini berarti penduduk Depok jauh  lebih miskin dari rata-rata penduduk Indonesia pada umumnya ?. Tidak persis demikian, rata-rata penduduk Depok mungkin sama miskinnya dengan penduduk Indonesia pada umumnya atau sedikit lebih miskin dari daerah-daerah yang kaya.  Lantas siapa di Indonesia yang kaya kalau begitu ?. Disinilah rupanya akar dari permasalahan kemiskinan itu.

Berdasarkan data dari riset tidak resmi PBB yang saya kutip di situs ini tanggal 28 Juni 2009 dalam judul tulisan Uang Yang Menimbulkan Ketimpangan Global, antara lain terungkap bahwa 50 % kemakmuran dunia dikuasai oleh 2 % penduduk dunia. Karena system ekonomi berbasis uang kertas yang sama diterapkan di seluruh dunia, maka distribusi 50% kemakmuran untuk 2% penduduk tersebut asumsi saya juga merata di seluruh dunia – termasuk di negeri tercinta kita Indonesia.

Dengan asumsi ini, marilah kita sekarang berhitung sebagai berikut :

·      PDB Indonesia tahun 2010 berdasarkan data IMF adalah US$ 695 Milyar; berdasarkan Bank Dunia US$ 540 Milyar dan berdasarkan CIA berada di angka US$ 539 Milyar.  Bila di rata-rata dari tiga sumber tersebut, maka PDB Indonesia tahun 2010 adalah berada di kisaran US$ 591 Milyar.
·      Angka ini setara dengan Rp 5, 442 trilyun bila kita asumsikan rata-rata nilai tukar sepanjang 2010 adalah Rp 9,200/US$.
·      Berdasarkan sensus penduduk 2010, kini jumlah penduduk di Indonesia ada 237,556,363.
·      Maka pendapatan perkapita rata-rata penduduk Indonesia tahun 2010 berada di kisaran Rp 22.9 juta.
·      Angka tersebut bila dikonversikan ke nishab zakat menjadi 67 % dari nisab zakat.

Tetapi nanti dahulu, 67% dari nisab zakat tersebut adalah apabila kita berasumsi adanya penyebaran yang relatif merata dari sisi pendapatan. Kenyataannya adalah 50% pendapatan dikuasai oleh 2% penduduk – berdasarkan riset tidak resmi bank Dunia tersebut diatas. Maka harus kita keluarkan dahulu yang 50% dari PDB tersebut untuk 2 % penduduk super kaya Indonesia. Hasilnya akan sebagai berikut :

·      PDB untuk 98% penduduk adalah 50% x Rp 5,442 trilyun menjadi Rp 2,721 trilyun.
·      98% penduduk adalah 98%x 237,556,363 jiwa atau 232,805,236 jiwa
·      Maka pendapatan perkapita 98% penduduk Indonesia berada di kisaran Rp 11.7 juta.
·      Angka ini bila dikonversikan ke nisab zakat menjadi 34 %.

Kita sekarang bisa melihat, bahwa pendapatan per kapita penduduk Depok yang sekitar Rp 8.2 juta atau 24% dari nishab zakat – sudah tidak lagi terlalu jauh dengan pendapatan per kapita 98% penduduk Indonesia yang berada di kisaran Rp 11.7 juta atau 34 % dari nisab zakat.

Saya katakan tidak terlalu jauh karena penduduk Depok yang sangat padat di daerah yang relatif tidak memiliki sumber kekayaan alam yang berarti. Daerah-daerah yang makmur di Indonesia adalah daerah dimana sumber kekayaan alamnya tinggi – dan penduduknya sedikit.

Namun angka manapun yang kita pakai apakah yang 24% nisab zakat untuk penduduk Depok atau 34% nisab zakat penduduk Indonesia – sesungguhnya secara umum negeri ini masih sangat jauh dari standar kemakmuran menurut Islam yang ukurannya antara lain adalah nisab zakat tersebut.

Walhasil inilah tanggung jawab kita semua, inilah ladang amal Islami yang bisa menjadi peluang siapa saja yang mau berjuang di dalamnya. Kalau pergerakan ekonomi syariah sekarang ini sering di persepsikan identik dengan bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah dlsb. maka tantangan ekonomi syariah yang sesungguhnya adalah memecahkan masalah kemiskinan ini dengan segala macam sumber daya yang ada dan berkembang di zaman ini.

Berangkat dari kesadaran ini, secara bertahap bersamaan dengan sudah meluasnya pemahaman dan ketersediaan Dinar di masyarakat – situs ini akan kami metamorphosa-kan kearah aplikasi dan solusi ekonomi syariah dalam arti yang luas – mencegah kelaparan, mengatasi kemiskinan dan membangun kemakmuran.

Kita tidak akan lagi mendorong atau mempromosikan ke  orang untuk memiliki atau berinvestasi Dinar dalam jumlah banyak, tetapi kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan cara-cara bagaimana harta yang banyak dari segelintir orang yang kaya di negeri ini bisa berputar seluasnya. Bukan berputar untuk yang kaya saja.

Inilah salah satu saripati dari ekonomi syariah seperti dalam firmanNya : “...supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu....” (QS 59 :7). Kalau saja ayat ini menjadi landasan untuk kebijakan pengembangan ekonomi kita, insyaAllah tidak akan ada ketimpangan 50% harta untuk 2 % penduduk sedangkan yang 98%-nya berebut untuk mendapatkan 50%.

Siapa yang akan bisa berjuang dan berbuat kearah tersebut ?, saya dan Anda melalui kapasitas kita masing-masing, disamping terus juga kita berusaha me-lobi para pemimpin-pemimpin kita untuk juga sedapat mungkin memfasilitasinya dengan kapasitas mereka.

Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita untuk beramal yang diridloiNya !. Amin.
(Muhaimin Iqbal, owner Gerai Dinar Group, 6 Januari 2011)

Selasa, 04 Januari 2011

Food For All : Agar Tidak Ada lagi Yang Meninggal Kelaparan Di Negeri Ini...!

Seperti biasa setiap pagi saya membaca beberapa media sebelum mulai menulis untuk situs ini. Kadang berita-beritanya menjadi inspirasi untuk tulisan-tulisan di situs ini, kadang juga tidak ada yang bisa menjadi inspirasi. Khusus untuk pagi ini saya merangkai tiga berita dari dua surat kabar yaitu Republika dan Kompas, yang kalau dibaca satu per satu kelihatannya tidak nyambung – tetapi bila di cerna ketiganya sekaligus  dan dilihat dengan timbangan yang adil – baru kita akan bisa melihat adanya sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaikinya.

Judul berita berita tersebut adalah “Angka Kemiskinan Turun” (Headline, Republika 04/01/11) ; “Makan Tiwul, Enam Bersaudara Tewas” (Hal 11, Republika 04/01/11) dan “Harga Cabai Ikut Tekan Daya Beli” (Headline, Kompas 04/01/11). Jujur saya sampai merinding membaca berita pertama dan kedua tersebut pagi ini.

Di kala pemerintah melalui Menko Perekonomian mengklaim keberhasilan menurunkan jumlah penduduk miskin dari 14.1 % ke 13.3%, di negeri yang sama ada 6 orang bersaudara tidak mampu membeli beras. Karena ketidak mampuan ini, mereka harus makan tiwul – dan tiwul yang dimakan-pun bisa jadi bukan dari yang layak konsumsi sehingga merenggut jiwa-jiwa mereka.

Yah mungkin meninggalnya 6 orang karena makan tiwul beracun ini memang kecelakaan – dan pihak keluarga-pun tidak bisa menuntut siapa-siapa atas musibah yang dideritanya, tetapi tetap membuat saya merinding – mengapa ?. Bahwasanya sampai ada 6 orang meninggal karena tidak bisa makan secara wajar, ada fardhu kifayah yang saya takut kita semua melalaikannya yaitu perintah untuk memberi makan. Saya takut kita semua termasuk orang-orang yang melalaikan agama karena kita tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin.

Bila di Chile saja, Presiden-nya sampai ikut berjibaku memimpin langsung upaya penyelamatan satu demi satu sampai seluruh 33 jiwa yang terjebak di reruntuhan tambang bisa diselamatkan – at all cost !; mosok di negeri gemah ripah loh jinawi yang mayoritas menganut agama Islam – dimana di ajaran agama ini ada perintah langsung untuk memberi makan – kita sampai membiarkan ada 6 jiwa meninggal hanya karena tidak mampu membeli beras ?.

Lantas apa yang bisa kita lakukan ?, pemimpin-pemimpin negeri ini tentu memiliki tanggung jawab lebih.  Namun kita semua juga tidak bisa berlepas diri dari perintah Al-Qur’an dalam konteks memberi makan ini, perintah tersebut adalah untuk kita semua – bukan hanya untuk para pemimpin.

Konkritnya apa yang bisa kita lakukan ?. Dalam skala mikro, masing-masing kita bisa mulai mendata orang-orang disekitar kita, mulai karib kerabat, tetangga dan seterusnya.  Kemudian kita santuni mereka bila diantara mereka ada yang berpotensi kelaparan, bahkan akan lebih elegan lagi bila kita bisa memberikan atau mencarikan mereka pekerjaan – agar mereka bisa memberi nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya secara berkelanjutan.

Bagaimana bila kita sendiri tidak bisa menyantuni, maka kita harus menyuruh orang lain yang mampu untuk menyantuni mereka – ini perintah di QS 107: 3. Gerakan individual satu persatu semacam ini mungkin kurang efektif, tetapi setidaknya kita mulai berbuat sesuatu sebelum ada korban lagi.

Gerakan yang bersifat terorganisir secara massal juga perlu kita lakukan, bagi yang punya kompetensi untuk memimpin LSM, mendesign dan membuat gerakan massal yang positif  dengan tema “Food For All – Pangan Untuk Semua” silahkan Anda gagas gerakan ini, insyaallah kami akan mendukung dengan menyediakan sarana dan prasarana seperti kantor, komunikasi, transportasi dlsb. Bagi yang berminat silahkan mengajukan proposal yang menyangkut program dan team-nya.

Selain yang bersifat gerakan individu dan masyarakat melalui LSM, program yang sifatnya strategis kedepan juga perlu digagas dan terus dikomunikasikan kepada para pihak yang berwenang di negeri ini. Akar masalah dari kemiskinan sampai orang tidak bisa makan secara proper harus bisa ditemukan dan diatasi.

Pengamatan saya yang sementara berdasarkan data yang disajikan oleh Kompas dalam berita tersebut diatas, yang kemudian saya lengkapi dengan sumber data aslinya (BPS) memang menunjukkan adanya sesuatu yang salah di negeri ini. Pangan yang seharusnya menjadi prioritas utama (top priority) dalam pengadaannya, seolah justru menjadi prioritas terakhir.

Hal ini bisa dibaca dari tingkat inflasi pangan yang tertinggi dibandingkan dengan komoditi lainnya. Ketika inflasi tahun 2010 secara umum dikatakan ‘hanya’ 6.96% , inflasi bahan pangan mencapai 15.64 % !. Bahkan selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik dibawah , inflasi bahan pangan (garis merah) selalu lebih tinggi dari inflasi pada umumnya (garis hijau). Rata-rata inflasi bahan pangan 5 tahun terakhir mencapai 12%, sementara inflasi umum  ‘hanya’ 6.8%. Karena harga bahan pangan yang begitu tinggi kenaikannya tersebut diataslah yang menyebabkan enam orang meninggal karena tidak mampu membelinya.

Inflasi 2006-2010Sumber Data : Biro Pusat Statistik
 
Dalam teori harga yang terbentuk di pasar, bila supply lebih kecil dari demand – maka harga naik. Sedangkan demand tidak bisa banyak ditekan karena terkait dengan kebutuhan dasar penduduk negeri ini, maka supply bahan pangan yang terjangkau di dalam negeri harus digenjot. Yang terjadi kini nampaknya masih sebaliknya. Berdasarkan teori supply and demand tersebut, ironi akan nampak jelas karena pangan mengalami inflasi tertinggi (12 % rata-rata 5 tahun) sedangkan urusan transportasi telekomunikasi dan sejenisnya mengalami inflasi terendah (1.8% rata-rata 5 tahun) – maka tidak salah bila kita mengambil kesimpulan bahwa supply mobil, motor, handphone dlsb. nampaknya lebih banyak digenjot ketimbang memproduksi beras.

Jadi berdasarkan grafik tersebut diatas, siapapun pemimpin negeri ini mestinya harus ada effort yang luar biasa dalam membalik arah dan mulai  membangun ketersediaan bahan pangan yang cukup di negeri ini. Fokus di bahan pangan ini sekali lagi harus ada di Top Priority – karena ini diperintahkan langsung di Al-Qur’an – sebaliknya insyaAllah kita tidak berdosa bila ada penduduk negeri ini yang tidak memiliki mobil, motor, handphone dlsb.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat meringankan tanggung jawab kita di akhirat nanti karena setidaknya kita telah ‘menyuruh’ orang lain untuk memberi makan, lebih dari itu kita juga ingin berbuat maksimal secara riil dengan gerakan ‘food for all’ – Ayo siapa yang mau dan mampu memimpin project amal ini ? – saya siap makmum di belakang Anda. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Owner geraidinar.com, 4 Januari 2011)