Tampilkan postingan dengan label Pengamalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengamalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

Dinar Untuk Napak Tilas Jejak Karir...

(Ditulis M Iqbal, owner Gerai Dinar, 2 November 2010)
Melanjutkan cerita tentang teman saya yang berkarir cemerlang dengan posisi sekarang sebagai direktur di grup perusahaan besar, kali ini saya ingin mendalami mengapa dia selama 15 tahun terakhir tidak merasakan adanya peningkatan kemakmuran. Apa yang terjadi dengan karirnya ?. Untuk pendalaman ini saya minta dia mengingat-ingat setiap perubahan dalam karir dan pendapatannya, kemudian saya plot-kan berdasarkan tabel harga Dinar yang saya muat di situs ini kemarin (01/11/2010). Hasil dari pemetaan perubahan karir dia selama 15 tahun terakhir ini dapat dilihat pada grafik dibawah.

Dinar dan Jejak KarirDinar dan Jejak Karir

Kita bisa melihat dari grafik tersebut diatas bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan perjalanan karir dia, bahkan sebagai professional dia termasuk professional yang karirnya cemerlang. Perhatikan ketika dia berhasil meningkatkan penghasilannya dua kali lipat pada tahun 2000 ketika dia pindah ke perusahaan lain sekaligus promosi menjadi general manager. Lompatan berikutnya terjadi ketika lima tahun kemudian  diangkat menjadi direktur di grup perusahaannya.

Lantas mengapa dengan perjalanan karir yang diatas rata-rata ini secara factual dia tidak bisa merasakan peningkatan kemakmuran ?. Ternyata ini adalah karena dia mengelola penghasilannya sama dengan pada umumnya masyarakat – yaitu mengelolanya dengan instrumen investasi finansial yang tidak terkait langsung dengan sektor riil.

Karena dari penghasilan dia baik yang di tabung di bank, deposito, asuransi, reksadana dan lain sebagainya semuannya ber-denominasi mata uang kertas Rupiah atau US$,  maka ketika daya beli uang kertas tersebut terus menyusut, tingkat kemakmuran dia juga ikut tergerus bersamanya. Perhatikan garis merah yang menunjukkan penghasilan dalam Rupiah yang secara angka terus naik, tetapi bila dibandingkan garis kuning yang menunjukkan penghasilan setelah  dikonversikan kedalam Dinar yang merepresentasikan daya beli uang terhadap benda riil – terus mengalami penurunan.

Sama dengan umumnya masyarakat Indonesia pula, pada tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi – meskipun gaji dia dalam Rupiah masih mengalami kenaikan – daya beli terhadap kebutuhan sehari-hari yang diwakili oleh harga Dinar tergerus menjadi hampir sepertiganya. Posisi dia ini baru ter-recover setelah lompat ke perusahaan lain dengan posisi yang lebih tinggi pada tahun 2000.

Pelajaran apa yang sebenarnya bisa kita ambil dari pengalaman teman saya tersebut  di atas ?. Bahwa ternyata hanya mengandalkan perjalanan karir yang cemerlang sekalipun, bila kita hanya mengelola penghasilan kita dengan instrumen investasi finansial semata – akan sulit kita untuk dapat meningkatkan kemakmuran; bahkan mempertahankannya-pun bisa jadi tidak mudah.

Lantas apa solusinya ?,  solusi terbaik menurut saya adalah sedini mungkin menggunakan sebagian penghasilan Anda untuk investasi di sektor riil secara langsung. Pertama ini akan mengamankan hasil jerih payah Anda dari gerusan inflasi atau penurunan daya beli, kedua adalah bisa jadi ini menjadi sarana Anda untuk memberi manfaat pada orang lain dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Mudahkan langkah ini ditempuh ?. Jelas tidak mudah. Itulah sebabnya saya menganjurkan Anda untuk merintisnya sedini mungkin.

Ambil contoh pengalaman teman saya tersebut diatas. Seandainya ketika masih muda sebagai manager perusahaan asing tahun 1995 dengan gaji yang Rp 10 juta atau setara lebih dari 80 Dinar saat itu, dia mulai menyisihkan penghasilannya untuk investasi sektor riil secara langsung – kemudian dia harus mengalami jatuh bangun selama tujuh kali atau lebih sekalipun – sebelum ketemu sektor riil yang pas untuk dia; maka kemungkinan saat ini dia sudah akan mampu mempertahankan penghasilannya dari gerusan inflasi – atau bahkan mengalahkannya. Wa Allahu A’lam.

Kamis, 04 November 2010

Dinar Sebagai Yardstick Kemakmuran dan Perencanaan Keuangan...

(Ditulis oleh M Iqbal, Owner of Gerai Dinar, 1 November 2010 )
Ada seorang teman yang saya kenal baik sejak tahun 1990-an hingga kini, karena kedekatan tersebut dia cukup leluasa mengungkapkan segala problem financial-nya ke saya. Pada tahun 1995 dia diangkat menjadi manager di perusahaan asing dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan; kini dia  direktur di salah satu group perusahaan besar dengan gaji Rp 100 juta-an per bulan !. Yang jadi pertanyaan dia ke saya adalah mengapa dengan gaji 10 kali lipat dibandingkan dengan gaji dia tahun 1995, dia tidak merasakan adanya peningkatan kemakmuran selama 15 tahun ini ?.

Disinilah problem yang terjadi dengan uang kertas, karena nilainya yang terus bergerak turun – angka di penghasilan kita bisa saja terus meningkat tetapi tidak berarti daya beli riil kita juga meningkat. Untuk bisa melihat daya beli riil kita, kita harus menggunakan timbangan yang juga benda riil – salah satunya adalah Dinar. Untuk melihat situasi financial teman saya tersebut diatas misalnya, kita dengan mudah dapat gunakan tabel dibawah.

Estimasi Harga Dinar 1970-2010
 
Penghasilan dia tahun 1995 yang Rp 10 juta saat itu kurang lebih setara dengan 82.29 Dinar. Dengan harga Dinar pagi ini dikisaran Rp 1,670,000,-/Dinar , penghasilan dia yang Rp 100 juta hanya setara dengan 59.88 Dinar !. Jadi setelah bekerja 15 tahun lebih dengan penghasilan dalam Rupiah yang sudah meningkat 10 kali lipat, tentu saja sang direktur tidak merasakan peningkatan kemakmuran karena daya beli riil dia selama ini bukannya naik tetapi malah turun.

Mengapa harga Dinar ini lebih akurat untuk mengukur daya beli riil kita ketimbang data inflasi di negara maju sekalipun ?; adalah sejarah ribuan tahun yang membuktikan hal ini. 1 Dinar di jaman Rasulullah SAW dapat untuk membeli 1 ekor kambing kurban yang baik, kini dengan 1 Dinar yang sama Anda tetap dapat memilih kambing kelas A untuk ber-kurban. Bila Dinar stabil daya belinya terhadap kambing, tentu dia juga memiliki daya beli stabil untuk kebutuhan kita lainnya.

Dengan menggunakan tabel yang sama, Anda juga dapat mengukur kinerja financial Anda dalam perjalanan karir Anda selama ini – jangan-jangan tanpa Anda sadari - Anda juga menjadi korban penurunan daya beli seperti teman saya tersebut. Lantas apa manfaatnya mengetahui kondisi riil kita ini ?. Bila kita berhasil mengidentifikasi masalahnya, maka ada kemungkinan kita bisa memperbaiki situasinya. Sebaliknya bila kita tidak tahu masalahnya, tentu akan sulit untuk mencari pemecahannya.

Untuk kasus teman saya tersebut misalnya; dengan penghasilannya sebagai direktur yang sekarang mendekati 60 Dinar per bulan – memang lebih rendah dari penghasilan dia sebagai manager tahun 1995 yang diatas 80 Dinar per bulan; tetapi sesungguhnya dia masih mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diinvestasikan di sektor riil.

Apa dampaknya bila dia tidak melakukan action ini sekarang ?, penghasilan dia akan semakin menurun kedepan (dalam Dinar) padahal dia semakin  dekat ke usia pensiun yang kurang dari 10 tahun mendatang. Bila ini terjadi, maka dari sisi financial dia tidak akan lebih baik dari posisi financial dia di masa mudanya. Inilah mayoritas yang dialami oleh pegawai di sektor apapun pada tingkat apapun – bila dia tidak mulai mengambil aksi investasi pada bentuk-bentuk investasi yang bisa mengalahkan penurunan daya beli mata uang kertas.

Bentuk investasi sektor riil yang sederhana tetapi akan mampu mengalahkan penurunan daya beli mata uang salah satunya adalah perdagangan.

Bila Anda berdagang beras misalnya. Anda mengambil dari Cianjur dan menjualnya di Jakarta dengan keuntungan bersih 10 %, maka keuntungan Anda yang 10 % dari harga beras ini akan mampu melawan inflasi atau penurunan daya beli mata uang karena ketika inflasi itu terjadi harga beras otomatis naik dan penghasilan Anda juga otomatis naik – seiring kenaikan harga beras.

Bila sekarang Anda mulai menjual 1 ton beras per bulan, 10 tahun lagi mampu menjual 10 ton beras per bulan, maka kenaikan penghasilan Anda akan merupakan kenaikan penghasilan yang riil karena dikaitkan langsung dengan daya beli terhadap beras – bukan kenaikan semu hanya dalam angka seperti dalam contoh kasus teman saya tersebut diatas.

Jadi mengenal yardstick atau tolok ukur yang benar, bisa menjadi awal Anda untuk membuat perencanaan keuangan masa depan yang lebih akurat dan memakmurkan. InsyaAllah.