Rabu, 05 Januari 2011

Project Amal Jama’i : Mengapa Tidak Kita Coba Teknologi Google, Wikipedia, Wikileaks dan Facebook …?.

Berita mengenai meninggalnya 6 orang bersaudara karena makan tiwul beracun yang saya kutip dalam tulisan saya kemarin (04/01/11) terus mengusik saya sepanjang hari. Saya sempatkan berpikir serius dan diskusi denga beberapa pihak, bagaimana bisa mengatasi hal ini ?. Mengapa kita selalu terlambat, baru diributkan setelah ada korban jatuh ?. Mengapa kita tidak bisa proaktif mendeteksi masalah seserius ini sebelum terjadi korban ?. Dimana para wakil kita, juga para pemimpin kita yang berjanji mengentaskan kemiskinan dalam kampanye-kampanye pemilihan mereka ?.

Hampir semua yang saya ajak bicara mempunyai argumen sendiri, tetapi intinya senada. Yaitu kemiskinan akan selalu ada, dan di negeri yang begitu luas, diantara penduduk yang 240 –an juta – rasanya tidak mungkin bisa mengetahui kondisinya semua setiap saat. Tidak ada cara untuk mengumpulkan data yang begitu akurat, yang bisa mendeteksi kalau ada satu dua orang di negeri ini yang tidak bisa makan. Dan berbagai excuse lainnya, yang semuanya tidak bisa menghibur kegelisahan saya.

Lantas saya berusaha mencari solusi masalah ini – dengan teknologi terkini – yaitu melakukan searching di internet dengan search engine paling popular Google, sekedar pingin tahu seperti apa yang dilakukan orang di benua lain, juga dijaman lain dalam mengatasi kelaparan ini ?. Subhanallah, jawaban itu ada di depan mata dari dua sumber sekaligus !.

Sumber pertama adalah dari ajaran junjungan kita sendiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits : dari Anas Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Artinya : Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba itu beriman, sehingga dia mencintai tetangganya -atau berkata : saudaranya- sebagaimana dia mencintai dirinya". Juga ada hadits lain lagi yag artinya “Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan".

Sumber kedua adalah inspirasi dari salah satu produk Google sendiri yaitu Google Earth. Dengan Google Earth ini, benda mati saja seperti rumah atau bahkan mobil Anda yang sedang parkir di halaman – dapat diketahui lokasi tepatnya dari manapun posisi Anda di dunia. Teknologi satelit yang digunakan memungkinkannya memetakan setiap jengkal tanah di bumi dengan relatif akurat. Bahkan kini ada profesi baru seperti gambar dibawah, dimana Anda bisa bersepeda keliling kota atau desa dan dibayar pula oleh Google – untuk sekedar memancarkan gambar situasi mutakhir dari jalan-jalan yang Anda lalui.

Google Bike
 
Apa hubungannya teknologi Google Earth tersebut dengan upaya menghilangkan kelaparan dari bumi ini ?. Dengan teknologi yang ada sekarang, kita tidak bisa excuse lagi dengan jumlah penduduk yang sangat banyak atau dengan wilayah yang amat luas – semuanya sangat mungkin dideteksi keberadaanya, situasinya dan hal-hal lain yang terkait dengan objek yang ingin diketahui.

Apakah dengan demikian kita akan butuh teknologi satelit yang mahal seperti yang digunakan oleh Google Earth ?, tidak juga harus demikian. Cukup inspirasinya saja yang kita gunakan. Yang perlu kita berdaya gunakan adalah ‘satelit-satelit’ dari ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits tersebut diatas – yaitu yang disebut tetangga !.

Bila kita bisa menemukan dua atau tiga orang mukmin disetiap 160 rumah saja, maka di seluruh bumi ini tidak akan ada lagi yang kelaparan. Mengapa demikian ?, perhatikan hadits tersebut diatas khususnya kata-kata “Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan". Menurut jumhur ulama yang disebut tetangga adalah 40 rumah ke kanan, kiri , depan dan belakang – jadi totalnya 160 rumah.

Latas bagaimana mengamalkan hadits tersebut di era teknologi sekarang ini, di era manusia hidup dengan individualisme-nya dimana satu dua rumah – kiri kanan depan belakang saja belum tentu kita kenal – apalagi 4 x 40 rumah ?.

Justru disinilah bukti kebenaran ajaran agama akhir jaman ini, selalu bisa up to date dan match dengan segala macam  kemajuan zaman. Kalau kita bisa membuat sebuah platform dengan inspirasi dari Google Earth (untuk mengambil pelajaran bahwa tidak ada sejengkal tanah-pun di bumi yang tidak terpetakan), dari Wikipedia (untuk mengambil idenya jutaan orang lintas agama, bangsa dan bahasa bekerja tanpa dibayar sekedar untuk berbagi ilmu untuk kemanusiaan) dan dari Facebook (untuk inspirasi terbangunnya jejaring social – dimana orang saling mengenal satu sama lain – seperti kita hidup di desa di jaman dulu) – maka dengan teknologi yang ada di jaman ini, sungguh sangat –sangat mungkin untuk mendeteksi adanya kelaparan di satu rumah – dimanapun di belahan dunia ini.

Mengapa butuh 2 – 3 orang mukmin di setiap 160 rumah ?. Ini untuk menggantikan fungsi satelitnya Google Earth. Bila ada 3 orang, maka orang pertama yang akan bertindak sebagai reporter adanya (potensi) kelaparan – mereka bisa melaporkan ini via sms, internet dlsb. ke suatu system yang sementara ini kita sebut saja Food For All (FFA) Project.

Orang kedua akan bertindak sebagai verifier – yang memverifikasi bahwa (potensi) kelaparan tersebut memang benar adanya. Dan orang ketiga akan bertindak sebagai distributor yang akan menyalurban bantuan. Orang pertama bisa bersifat anonym – karena akan dimungkinkan orang yang (berpotensi) kelaparan itu sendiri yang melaporkan situasinya. Orang kedua dan ketiga adalah well identified person – yaitu para sukarelawan yang identitasnya jelas (yang bisa di saring dari jejaring social yang ada) – keduanya diperlukan agar ada check and balance.

Bagaimana kita akan yakin bahwa data-data (potensi) kelaparan ini nantinya akan akurat ?, lagi-lagi kita tidak perlu re-invent the wheel karena teknik-teknik verifikasi ini sudah dengan sangat akurat dilakukan di Wikileaks. Verifikasi data (potensi) kelaparan insyaAllah akan jauh lebih sederhana dan lebih mudah ketimbang verifikasi data-data intelligence seperti yang dilakukan oleh Wikileaks.

Lantas darimana dana untuk membantu orang-orang yang (berpotensi) kelaparan ini ?. Disinilah system fardhu kifayah jalan . Bila ada (potensi) kelaparan di satu daerah – idealnya diatasi oleh orang-orang yang berkecukupan di daerah tersebut. Namun bila tidak cukup diatasi oleh sumber dana setempat, maka terus melebar sampai umat yang mampu di belahan dunia manapun bisa terlibat membantunya.

Dari mana umat di belahan dunia lain bisa tahu kalau ada (potensi) kelaparan di suatu daerah ?; yaitu tadi dari laporan orang pertama (atau laporan anonym) yang sudah diverifikasi orang kedua, namun tidak sepenuhnya bisa diatasi oleh orang ketiga. Begitu seterusnya system ini berjalan – sampai tidak ada lagi kelaparan dimuka bumi ini. Allah menjamin kecukupan rizki bagi seluruh makhluk-nya, kalau sampai ada yang tidak dapat ini pasti karena adanya kedzaliman dalam distribusinya.

Mungkinkah system semacam ini dibuat ?, sangat-sangat mungkin – peluang bisa dibuatnya sama dengan peluang bisa dibuatnya Google, Wikipedia, Wikileaks dan Facebook yang semuanya sudah direalisir oleh orang lain dengan berbagai motif-nya.

Yang diperlukan hanya beberapa anak-anak muda cerdas negeri ini, yang mau bekerja keras dengan motif yang lebih mulia dari sekedar uang dan ketenaran – motifnya adalah melaksanakan perintah untuk memberi makan sehingga seluruh pendududuk bumi mendapatkan makanan yang diperlukannya. Dahulu situasi seperti ini pernah tercapai di zaman dan di wilayah Kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz, siapa tahu di zaman ini kita bisa mengulangnya kembali dengan sarana teknologi.

Tidak hanya masyarakat awam seperti kita yang akan diuntungkan dengan adanya system ini, tetapi para wakil rakyat akan dapat dengan mudah memantau (potensi) kelaparan di daerahnya masing-masing, para petinggi negeri bisa menyusun program yang akurat untuk mengatasi kantong-kantong kemiskinan, para dermawan dapat menyalurkan dananya secara akurat dan transparent langsung ke daerah-daerah yang membutuhkan dlsb.dlsb.

InsyaAllah akan ada sekian ribu orang yang akan membaca tulisan ini, maka ibarat bermain bola – saya sudah melakukan tendangan awal ini – siapa tahu Andalah salah satunya yang akan ikut menendang bola ini selanjutnya sampai benar-benar Goal !. InsyaAllah.(Muhaimin Iqbal, owner geraidinar.com, 5 Januari 2011)

Foto Koin Emas Dinar



foto diambil dari www.dinaremasku.com atas seijin pemiliknya

Selasa, 04 Januari 2011

Food For All : Agar Tidak Ada lagi Yang Meninggal Kelaparan Di Negeri Ini...!

Seperti biasa setiap pagi saya membaca beberapa media sebelum mulai menulis untuk situs ini. Kadang berita-beritanya menjadi inspirasi untuk tulisan-tulisan di situs ini, kadang juga tidak ada yang bisa menjadi inspirasi. Khusus untuk pagi ini saya merangkai tiga berita dari dua surat kabar yaitu Republika dan Kompas, yang kalau dibaca satu per satu kelihatannya tidak nyambung – tetapi bila di cerna ketiganya sekaligus  dan dilihat dengan timbangan yang adil – baru kita akan bisa melihat adanya sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaikinya.

Judul berita berita tersebut adalah “Angka Kemiskinan Turun” (Headline, Republika 04/01/11) ; “Makan Tiwul, Enam Bersaudara Tewas” (Hal 11, Republika 04/01/11) dan “Harga Cabai Ikut Tekan Daya Beli” (Headline, Kompas 04/01/11). Jujur saya sampai merinding membaca berita pertama dan kedua tersebut pagi ini.

Di kala pemerintah melalui Menko Perekonomian mengklaim keberhasilan menurunkan jumlah penduduk miskin dari 14.1 % ke 13.3%, di negeri yang sama ada 6 orang bersaudara tidak mampu membeli beras. Karena ketidak mampuan ini, mereka harus makan tiwul – dan tiwul yang dimakan-pun bisa jadi bukan dari yang layak konsumsi sehingga merenggut jiwa-jiwa mereka.

Yah mungkin meninggalnya 6 orang karena makan tiwul beracun ini memang kecelakaan – dan pihak keluarga-pun tidak bisa menuntut siapa-siapa atas musibah yang dideritanya, tetapi tetap membuat saya merinding – mengapa ?. Bahwasanya sampai ada 6 orang meninggal karena tidak bisa makan secara wajar, ada fardhu kifayah yang saya takut kita semua melalaikannya yaitu perintah untuk memberi makan. Saya takut kita semua termasuk orang-orang yang melalaikan agama karena kita tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin.

Bila di Chile saja, Presiden-nya sampai ikut berjibaku memimpin langsung upaya penyelamatan satu demi satu sampai seluruh 33 jiwa yang terjebak di reruntuhan tambang bisa diselamatkan – at all cost !; mosok di negeri gemah ripah loh jinawi yang mayoritas menganut agama Islam – dimana di ajaran agama ini ada perintah langsung untuk memberi makan – kita sampai membiarkan ada 6 jiwa meninggal hanya karena tidak mampu membeli beras ?.

Lantas apa yang bisa kita lakukan ?, pemimpin-pemimpin negeri ini tentu memiliki tanggung jawab lebih.  Namun kita semua juga tidak bisa berlepas diri dari perintah Al-Qur’an dalam konteks memberi makan ini, perintah tersebut adalah untuk kita semua – bukan hanya untuk para pemimpin.

Konkritnya apa yang bisa kita lakukan ?. Dalam skala mikro, masing-masing kita bisa mulai mendata orang-orang disekitar kita, mulai karib kerabat, tetangga dan seterusnya.  Kemudian kita santuni mereka bila diantara mereka ada yang berpotensi kelaparan, bahkan akan lebih elegan lagi bila kita bisa memberikan atau mencarikan mereka pekerjaan – agar mereka bisa memberi nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya secara berkelanjutan.

Bagaimana bila kita sendiri tidak bisa menyantuni, maka kita harus menyuruh orang lain yang mampu untuk menyantuni mereka – ini perintah di QS 107: 3. Gerakan individual satu persatu semacam ini mungkin kurang efektif, tetapi setidaknya kita mulai berbuat sesuatu sebelum ada korban lagi.

Gerakan yang bersifat terorganisir secara massal juga perlu kita lakukan, bagi yang punya kompetensi untuk memimpin LSM, mendesign dan membuat gerakan massal yang positif  dengan tema “Food For All – Pangan Untuk Semua” silahkan Anda gagas gerakan ini, insyaallah kami akan mendukung dengan menyediakan sarana dan prasarana seperti kantor, komunikasi, transportasi dlsb. Bagi yang berminat silahkan mengajukan proposal yang menyangkut program dan team-nya.

Selain yang bersifat gerakan individu dan masyarakat melalui LSM, program yang sifatnya strategis kedepan juga perlu digagas dan terus dikomunikasikan kepada para pihak yang berwenang di negeri ini. Akar masalah dari kemiskinan sampai orang tidak bisa makan secara proper harus bisa ditemukan dan diatasi.

Pengamatan saya yang sementara berdasarkan data yang disajikan oleh Kompas dalam berita tersebut diatas, yang kemudian saya lengkapi dengan sumber data aslinya (BPS) memang menunjukkan adanya sesuatu yang salah di negeri ini. Pangan yang seharusnya menjadi prioritas utama (top priority) dalam pengadaannya, seolah justru menjadi prioritas terakhir.

Hal ini bisa dibaca dari tingkat inflasi pangan yang tertinggi dibandingkan dengan komoditi lainnya. Ketika inflasi tahun 2010 secara umum dikatakan ‘hanya’ 6.96% , inflasi bahan pangan mencapai 15.64 % !. Bahkan selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik dibawah , inflasi bahan pangan (garis merah) selalu lebih tinggi dari inflasi pada umumnya (garis hijau). Rata-rata inflasi bahan pangan 5 tahun terakhir mencapai 12%, sementara inflasi umum  ‘hanya’ 6.8%. Karena harga bahan pangan yang begitu tinggi kenaikannya tersebut diataslah yang menyebabkan enam orang meninggal karena tidak mampu membelinya.

Inflasi 2006-2010Sumber Data : Biro Pusat Statistik
 
Dalam teori harga yang terbentuk di pasar, bila supply lebih kecil dari demand – maka harga naik. Sedangkan demand tidak bisa banyak ditekan karena terkait dengan kebutuhan dasar penduduk negeri ini, maka supply bahan pangan yang terjangkau di dalam negeri harus digenjot. Yang terjadi kini nampaknya masih sebaliknya. Berdasarkan teori supply and demand tersebut, ironi akan nampak jelas karena pangan mengalami inflasi tertinggi (12 % rata-rata 5 tahun) sedangkan urusan transportasi telekomunikasi dan sejenisnya mengalami inflasi terendah (1.8% rata-rata 5 tahun) – maka tidak salah bila kita mengambil kesimpulan bahwa supply mobil, motor, handphone dlsb. nampaknya lebih banyak digenjot ketimbang memproduksi beras.

Jadi berdasarkan grafik tersebut diatas, siapapun pemimpin negeri ini mestinya harus ada effort yang luar biasa dalam membalik arah dan mulai  membangun ketersediaan bahan pangan yang cukup di negeri ini. Fokus di bahan pangan ini sekali lagi harus ada di Top Priority – karena ini diperintahkan langsung di Al-Qur’an – sebaliknya insyaAllah kita tidak berdosa bila ada penduduk negeri ini yang tidak memiliki mobil, motor, handphone dlsb.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat meringankan tanggung jawab kita di akhirat nanti karena setidaknya kita telah ‘menyuruh’ orang lain untuk memberi makan, lebih dari itu kita juga ingin berbuat maksimal secara riil dengan gerakan ‘food for all’ – Ayo siapa yang mau dan mampu memimpin project amal ini ? – saya siap makmum di belakang Anda. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Owner geraidinar.com, 4 Januari 2011)

Minggu, 02 Januari 2011

La Dharara Wa La Dhirara: Agar Harimau Tidak Menerkam Kita Dari Belakang...

Alkisah ada dua orang laki-laki berjalan di tengah hutan, orang yang pertama bertanya kepada yang kedua : “seandainya tiba-tiba ada harimau datang mau menerkam kita, apa yang akan engkau lakukan ?”. Yang kedua menjawab : “saya akan berlari kencang mengalahkanmu !”.  Orang yang pertama heran dengan jawaban yang mengagetkan tersebut, bertanya lagi : “mengapa engkau hanya akan berlari mengalahkanku ?.” Yang kedua menjawab : “Iya, karena bila aku dapat berlari mengalahkanmu, harimau akan cukup puas dengan menerkammu dan tidak perlu lagi mengejarku !”.


Kemudian orang kedua ganti bertanya : “lha kamu sendiri apa yang akan kamu lakukan ?”. Yang pertama menjawab : “Saya akan mengajakmu bersama-sama menghadapi harimau tersebut. Karena harimau hanya akan menerkam dari belakang, strategi kita adalah kita padukan punggung-punggung kita – sehingga dari manapun dia datang – dia akan menghadapi salah satu wajah kita, dia tidak akan berani menerkam kita…”.

Tahukah Anda siapa orang pertama dan siapa orang kedua tersebut ?. Yang pertama adalah ekonomi syariah sedangkan yang kedua adalah ekonomi kapitalis. Dalam pinsip dasar ekonomi syariah ada istilah la dharara wa la dhirara yang artinya kurang lebih tidak membahayakan diri sendiri dan tidak pula membahayakan orang lain. Dalam ekonomi kapitalis mereka berprinsip pada survival of the fittest – yang dikembangkan dari teori Darwin yang kontroversial itu – tidak mengapa orang lain dalam bahaya asal dirinya sendiri selamat !.

Dengan prinsip survival of the fittest inilah bisnis retail kebutuhan sehari-hari kita di dominasi oleh dua nama saja – bahkan sampai ke pelosok-pelosok negeri. Dengan prinsip yang sama jutaan petani tebu dan pekerja gula kita akan kehilangan lapangan pekerjaannya karena produk mereka tidak akan mampu bersaing dengan serbuan produk dari luar. Sektor-sektor ekonomi lainnya kurang lebih juga menghadapi ancaman yang sama.

Lantas bagaimana para ekonom , pemikir  dan pelaku ekonomi syariah harusnya bertindak menyikapi serbuan kekuatan kapitalisme global yang siap menerkam pasar di negeri yang berpenduduk sekitar 240 juta jiwa dan mayoritasnya muslim ini ?. Ya seperti strategi yang disampaikan oleh orang pertama tersebut diatas.

Kita harus dapat melihat ancaman kapitalisme global ini sebagai ancaman bersama, kita harus dapat menyatukan punggung-punggung kita sehingga wajah-wajah kita dapat melihat ke seluruh penjuru. Darimanapun datangnya ancaman itu, kita harus dapat melihatnya sebelum ancaman itu bener-bener menerkam kita. Karena kita dapat melihat ke segala penjuru pula, maka kita akan selalu dalam kondisi siaga dan selalu dapat bertindak antisipatif.

Bagaimana konkritnya ?,  pembelajaran dan perjuangan ekonomi yang berbasis syariah tidak cukup pada bidang-bidang seperti perbankan, asuransi, pasar modal dan sejenisnya, tetapi ke seluruh aspek kehidupan. Ingat bahwa kapitalisme mencaplok eknomi negeri ini tidak hanya melalui perbankan, asuransi dan pasar modal. Mereka mencaplok dan mengkunyah-kunyah ekonomi negeri ini melalui industri retail, telekomunikasi, media, teknologi, energi, produk pangan, produk pertanian dan pendek kata hampir keseluruhan produk barang dan jasa yang kita perlukan sehari-hari.

Lantas dari mana kita memulainya ?, yang paling mudah dan bisa dilakukan oleh siapapun adalah ya dari tempat kita berdiri masing-masing sekarang. Bila kita adalah konsumen, mulailah berpihak pada produk-produk dari saudara-saudara kita. Bila Anda pelaku bisnis di industri tertentu, perhatikan industri Anda – insyaallah Anda akan dapat melihat mana-mana yang bersikap seperti orang yang pertama dalam contoh tersebut diatas dan mana-mana yang bertindak seperti orang kedua – dengan demikian Anda akan dapat membedakan mana yang lebih dekat ke yang syar’i dan mana yang lebih dekat ke yang kapitalis. Setelah Anda mampu membedakannya, Anda akan tahu kepada yang mana Anda akan berpihak.

Bila Anda memerlukan panduan lebih lanjut untuk aplikasi perjuangan ekonomi syariah dibidang Anda masing-masing, insyaallah team kami yang multi disiplin siap membantu semaksimal mungkin yang kami bisa – selebihnya kita bisa belajar bareng menyatukan punggung-punggung ini.

Maka kalau ada istilah yang sudah popular namun kurang bermakna “ ini dadaku, mana dadamu…”, kini istilah tersebut ingin kita ganti yang lebih bermakna dan berdampak “ini punggungku, mana punggungmu…”. Agar kita bisa saling menutupi kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain, agar ‘harimau’ kapitalisme tidak menerkam kita dari belakang…

Semoga Allah menyatukan hati-hati kita semua untuk bersama-sama berjuang di jalanNya …Amin.
(Muhaimin Iqbal, owner geraidinar.com, 22 Desember 2010)

Harga Emas/Dinar : 2010 Review & 2011 Outlook

2010 baru saja berlalu dan kini kita melangkah ke 2011. Bagi yang mempersepsikan emas atau Dinar sebagai investasi, 2010 adalah tahun yang menggembirakan karena emas atau Dinar mengalami appresiasi nilai sekitar 23 % dalam Rupiah atau sekitar 3.5 kali hasil deposito atau tabungan. Akhir tahun 2009 lalu harga Dinar ditutup di angka Rp 1,444,040  sedangkan akhir tahun 2010 Dinar ditutup pada harga Rp 1,777,760,-. Dalam US$ kenaikan ini lebih menyolok lagi karena harga emas Dunia akhir 2009 adalah US$ 1,087.50 sedangkan akhir 2010 harga emas ini ditutup pada angka US$ 1,421.60 atau mengalami peningkatan sekitar 30%.

Diantara penyebab kenaikan harga emas dunia tersebut yang bersifat sangat fundamental adalah apa yang dilakukan oleh bank central-nya Amerika atau the Fed, dengan perilaku kontroversialnya dalam mencetak uang dari awang-awang atau yang disebut quantitative easing. Kenaikan harga emas 2010 masih terkait langsung dengan dampak quantitative easing 1 yang dilakukan Amerika sejak November 2008. Saat itu mereka mulai ‘mencetak uang’ US$ 600 milyar untuk membeli apa yang disebut Mortgage-Backed Securities (MBS) dan berbagai bentuk surat hutang lainnya, namun karena kompleksitas problem negeri itu angka ini menggelembung sampai US$ 2.1 trilyun pertengahan tahun 2010.

Angka yang US$ 2.1 trilyun tersebut seharusnya menurun bila ekonomi negeri itu berhasil dipulihkan, namun kenyataannya kemudian di bulan November 2010 the Fed-nya negeri itu mengumumkan lagi akan dilakukannya quantitative easing 2  yang akan diimplementasikan hingga pertengahan 2011. Belajar dari quantitative easing 1 yang dampaknya terhadap kenaikan harga emas berlanjut sampai 2 tahun kemudian, maka dampak dari implementasi quantitative easing 2 juga sangat mungkin akan mendongkrak harga emas di tahun 2011 atau bahkan sampai 2012 nanti.

Jadi penyebab utama yang menjadikan harga emas melonjak sampai 30% dalam US$ tahun 2010, juga masih ada disana di tahun 2011. Apakah dampaknya akan sekuat quantitative easing 1 ?, waktu nanti yang akan menjawabnya. Namun ketika quantitative easing 1 diputuskan November 2008, tahun berikutnya (2009) harga emas dalam US$ naik 25%, dan tahun berikutnya lagi (2010) naik hingga 30%. Itulah sebabnya ketika saya membuat Estimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011 dengan menggunakan statitstik 10 tahun dan 40 tahun, saya beri catatan khusus bahwa estimasi tersebut tidak memasukkan dampak dari quantitative easing 2 tersebut diatas.

Jadi kalau di estimasi konservatif harga emas di akhir tahun 2011 ini saya prediksikan di kisaran US$ 1,500/Oz s/d US$ 1,600,-/Oz, maka estimasi optimis-nya bila kita belajar dari dampak quantitative easing 1,  harga emas bisa saja mencapai US$ 1,780/Oz di tahun 2011 dan US$ 2,300/Oz di tahun 2012.

Lantas bagaimana dengan harga emas atau Dinar dalam Rupiah ?. Kenaikan harga emas atau Dinar dalam Rupiah tahun 2010 yang tidak setinggi kenaikanya dalam US$ adalah karena factor penguatan Rupiah terhadap US$.  Bila kurs rata-rata bulanan Desember 2009 adalah Rp 9,454/US$ , Desember 2010 ini rata-ratanya adalah Rp 9,024/US$ atau mengalami penguatan 4.5%.

Penguatan yang sama tidak bisa kita harapkan untuk tahun 2011 ini karena akan menurunkan daya saing ekspor kita, sebaliknya kecenderungan melemah ke kisaran angka tahun sebelumnya (2009) atau di angka Rp 9,400-an lebih memungkinkan bila negeri ini ingin terus menjaga surplus di neraca perdagangannya.

Maka bila faktor quantitative easing 2 dan sedikit pelemahan Rupiah ini yang kita gabungkan untuk membuat estimasi optimis harga emas atau Dinar dalam Rupiah,  harga emas dalam Rupiah akan mencapai kisaran Rp 540,000/gram di tahun 2011 dan Rp 700,000/gram di tahun 2012. Dengan asumsi yang sama maka Dinar akan berada di kisaran Rp 2,300,000,- tahun 2011 dan Rp 3,000,000 tahun 2012.

Sebagaimana yang sering saya ungkapkan di situs ini, tidak ada seorang-pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi. Jadi estimasi saya baik yang konservatif maupun yang optimistis bisa saja keduanya salah. Wa Allahu A’lam.
(Muhaimin Iqbal, owner geraidinar.com, 1 Januari 2011)

Entrepreneurship : Inginkah Anda Masuk Ke Sekolah Business Terbaik…?.

Tergelitik dengan sebuah artikel di harian Kompas kemarin (30/12/2010) yang menyatakan bahwa di Indonesia kini hanya ada sekitar 0.18%  (+/- 426,600)dari jumlah penduduk Indonesia (237 juta) yang jadi wirausaha, saya jadi terdorong untuk ikut bisa berkontribusi dalam melahirkan atau setidaknya ikut serius memikirkan bagaimana kita  bisa melahirkan hampir 2 juta lagi wirausaha yang dibutuhkan negeri ini – sekedar untuk melewati angka 1 % dari jumlah penduduk, agar kita bisa memenuhi KPI kita-kita dalam melaksanakan perintah untuk memberi makan.

Saya tahu pastinya instansi-instansi yang terkait dari pusat maupun di daerah juga telah memikirkan dan berbuat tentang hal ini, namun kontribusi orang swasta seperti kita-kita juga amat sangat dibutuhkan – lagi pula masing-masing kita juga memiliki tugas untuk menciptakan pekerjaan ini seperti yang sudah pernah saya tulis dalam link tersebut diatas.

Lantas dari mana memulainya ?, kalau melihat rendahnya jumlah wirausaha negeri ini seperti data yang terungkap di atas – pasti ada sesuatu yang seriously wrong di negeri ini yang menghambat tumbuhnya para wirausaha.  Salah satu yang seriously wrong ini pernah saya tulis hampir setahun lalu dengan judul “Tantangan Untuk Negeri Di Ranking 122…”.

Yang kedua adalah masalah pendidikan, meskipun beberapa sekolah business telah lahir di negeri ini – jumlahnya masih amat sangat sedikit ketimbang sekolah-sekolah lain yang pada umumnya tidak mempersiapkan lulusannya untuk siap terjun menjadi wirausaha.  Namun kalau toh Anda belum sempat mengecap sekolah business yang baik ini, Anda tidak perlu kawatir – karena ada sekolah business yang terbaik yang siap menanti Anda memasukinya kapan saja Anda mau.

Keberadaan sekolah business terbaik ini saya pelajari dari salah satu entrepreneur dan penulis terpopuler dunia yaitu Robert T. Kiyosaki. Robert ini pernah menjadi pilot angkatan laut Amerika ketika negeri itu terlibat dalam perang yang tidak bisa dimenangkannya yaitu perang Vietnam. Saat itu korban dari Amerika begitu banyaknya sehingga setiap missi yang dilakukan, ancaman kematian begitu nyata di depan mata.

Lantas bagaimana Robert menghadapi ‘misi bunuh diri’ ini ?, Entah dia berdo’a ke siapa – tetapi dia berdo’a bukan untuk tetap hidup – tetapi berdo’a untuk mati tidak sebagai pengecut, dia ingin mati terhormat – dan tidak ingin ketakutan akan kematian menghalangi dia untuk berbuat sesuatu terhadap negerinya – meskipun saat itu dia sendiri ragu apakah yang dilakukan negerinya tersebut benar atau salah.

Sikap ini rupanya yang mempengaruhi apa yang dilakukannya kemudian ketika selamat kembali ke negaranya, apa yang dilakukannya berbeda dengan veteran perang pada umumnya. Dia tidak mencari pekerjaan yang memberinya job security, apalagi minta santunan pemerintahnya. Dia siap menghadapi lembah kematian –death valley- berikutnya , yaitu death valley-nya para pengusaha.

Dengan berani menghadapi ‘kematian’ ini, dia mencoba satu demi satu usaha – tentu banyak yang gagal – tetapi sejarah hidupnya kemudian mencatat juga begitu banyak yang berhasil. Bahkan pengalaman keberhasilannya dalam usaha dan investasi menjadi inspirasi bagi jutaan orang lain di dunia.

Lantas dimana sekolah business terbaik yang Robert Kiyosaki pernah masuki untuk mencapai keberhasilannya tersebut ?.  Berdasarkan pengakuan dia sendiri, sekolah terbaiknya adalah pengalaman hidupnya. Belajar dari kegagalan dan kesalahan, belajar menghadapi rasa takut (istilah saya ayub-ayuben) dalam hidupnya – itulah sekolah business terbaik yang dia miliki.

Pengalaman Robert membangun usaha dan portofolio investasi ini juga sejalan dengan rumusan pakar pendidikan Edgar Dale yang menghasilkan apa yang disebutnya cone of experience atau kerucut pengalaman. Berdasarkan rumusan cone of experience seperti dalam grafik dibawah, pelajaran terbaik adalah memang dari ‘do the real thing’.

Cone of ExperienceCone of Experience
 
Sedangkan membaca dan mendengar adalah merupakan sarana belajar yang paling buruk. Jadi disinilah rupanya masalahnya mengapa wirausaha di negeri ini jumlahnya masih begitu kecil. Ketika kita sekolah, kita menuntut ilmu mayoritasnya hanya melalui cara membaca dan mendengar. Ketika kita sudah mapan bekerja di institusi kenamaan, kita bercita-cita ingin menjadi pengusaha – tetapi yang kita lakukan juga lebih banyak sebatas membaca buku dan mendengar cerita sukses orang lain.

Nah kinilah saatnya kita ‘do the real thing’ tersebut dan siap menghadap death valley dengan tegar. Lebih dari 1400 tahun sebelum Edgar Dale menemukan Cone of Experience-nya; Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW sudah mengajarkan ke kita tentang hal yang amat sangat penting yang perlu kita lakukan dalam hidup kita yaitu amal shaleh. Ilmu saja tidak cukup bila tidak di amalkan. Para pejuang-pejuang Islam yang mengikuti beliau – kemudian juga memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan seni menghadapi ‘kematian’ ini yaitu dengan tekad untuk Isy Kariman Au Mut Syahidan – Hidup Mulya Atau Mati Syahid.


Kalau Robert Kiyosaki saja bisa begitu sukses karena dia tidak takut menghadapi death valley dalam hidupnya, kita yang memiliki iman dan tujuan hidup yang lebih mulya – insyaAllah juga memiliki kesempatan sukses yang sama, bila kita juga melakukan hal yang sama – belajar dari sekolah bisnis terbaik yang sama pula – yaitu sekolah business yang disebut ‘do the real thing !’. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 31 Desember 2010)

Rabu, 29 Desember 2010

Menambal Ember Bocor : Cara Mengalahkan Inflasi...

Dalam tulisan saya tanggal 16 Desember 2010 lalu saya menjelaskan bahwa inflasi itu seperti ember bocor untuk mengangkut air,  seberapa keras-pun kita bekerja – hasilnya tidak akan optimal karena tabungan  kita terus tergerus oleh inflasi. Bila Anda punya uang banyak dan ditaruh di Deposito, hasil bersihnya setelah pajak hari-hari ini akan berada di kisaran 5 % per tahun. Bila di tabungan biasa, hasil bersihnya akan lebih rendah lagi yaitu di kisaran 3 % per tahun. Apalah artinya hasil yang 5% atau bahkan 3 % ini bila dibandingkan dengan inflasi rata-rata year on year (yoy) delapan tahun terakhir sejak Januari 2003 berada di kisaran 8% per tahun?.

Mau ditaruh di deposito dalam mata uang asing seperti US$ ?, lebih buruk lagi hasilnya. Hari-hari ini deposito US$ hanya akan memberikan hasil di kisaran 0.30% per tahun sementara tingkat inflasi rata-rata US$ adalah di kisaran 4% per tahun. Walhasil dimanapun uang Anda ditaruh, asal masih berupa uang kertas – akan tetap tergerus oleh inflasi – Anda tetap membawa air dalam ember yang bocor !.

Lantas apa yang Anda bisa lakukan, agar jerih payah Anda tetap bernilai ketika kelak dibutuhkan untuk biaya sekolah anak-anak, membayar biaya kesehatan di hari tua, agar di usia pensiun Anda tetap perkasa dari sisi financial ?.

Pertama ember yang bocor tersebut harus ditambal dahulu !, dengan apa ?, yang jelas sudah terbukti mudah dikelola dan available adalah mengamankan hasil jerih payah Anda secukupnya (agar tidak menimbun) dalam bentuk emas atau Dinar. Perhatikan grafik dibawah yang menggambarkan perbandingan appresiasi harga emas (yoy) dengan inflasi (yoy) selama 8 tahun terakhir sejak Januari 2003. Data Inflasi saya ambilkan dari datanya Bank Indonesia, harga emas saya ambilkan dari datanya Kitco, sedangkan konversinya ke Rupiah saya gunakan data dari Pacific Exchange Rate Services.

Emas vs InflasiSource : BI, Kitco, Pacific Exchange Services
 
Dari grafik diatas Anda bisa lihat, appresiasi harga emas hampir selalu bisa melampaui inflasi dengan tingkat perbedaan yang cukup tinggi. Bila ditarik angka rata-ratanya selama 8 tahun terakhir, rata-rata appresiasi harga emas dalam Rupiah berada di kisaran 19 % per tahun , sedangkan rata-rata inflasi berada di kisaran 8 % per tahun. Jadi grafik tersebut diatas menunjukkan bahwa emas atau Dinar dengan mudah dapat Anda gunakan untuk menambal ember bocor yang namanya inflasi.

Kedua setelah ember Anda tidak lagi bocor, kini saatnya Anda dapat bekerja keras tanpa perlu kawatir hasilnya akan tergerus oleh inflasi. Bila diamnya emas atau Dinar saja dengan mudah akan mampu mengalahkan inflasi, tentu hasilnya akan lebih baik lagi dan lebih bermanfaat untuk umat yang luas bila emas atau Dinar tersebut digunakan untuk memutar sektor riil atau untuk berusaha.

Itulah sebabnya, kampanye penggunaan Dinar di situs ini tidak hanya berhenti pada sekedar  menggunakan Dinar untuk proteksi nilai, tetapi lebih dari itu kita juga mendorong untuk lahirnya usaha-usaha sektor riil yang insyaAllah akan memberi manfaat yang lebih luas. Bahkan insyaallah kedepannya, bersamaan dengan sudah memasyarakatnya Dinar – kampanye untuk mendorong lahirnya berbagai usaha sektor riil ini akan lebih banyak kami tekankan. InsyaAllah.
(Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 28 Desember 2010)